Arti Hadirmu
Hari rabu yang melelahkan sehabis pulang sekolah, tidak mengurungkan niat Alvin untuk menuju toko buku.Mata Alvin melirik kesana kemari, mencari komik Detective Conan, komik favoritnya. Selesai membayar di kasir, Alvin bergegas pulang. Siang itu cuacanya cukup panas, membuat langkah cowok yang memiliki wajah chinese itu seperti dalam lomba jalan cepat.Di jalan komplek Harmony yang menanjak, Alvin melihat seorang gadis yang membawa kantong plastik, tengah berjalan sendirian. Gadis itulah yang akhir-akhir ini mengundang rasa penasaran Alvin.Sebenarnya, setiap kali Alvin berpapasan dengan gadis itu, ia selalu mendahului Alvin tersenyum. Tapi setiap kali Alvin ingin mengakrabkan diri, gadis itu langsung menjauhi Alvin. Alvin sendiri tidak mengerti, mengapa gadis itu bersikap seperti itu.Awalnya Alvin mengira sikap gadis itu hanya ditunjukkan padanya. Tapi setelah ia amati, gadis itu bersikap seperti itu pada semua orang di kompleks itu. Karena bakat detektif seorang Alvin Jonathan Sindhunata, Alvin bisa mencari tau nama dan alamat rumahnya. Namanya Sivia, biasa dipanggil Via ia berasal dari Bandung, baru sekitar dua bulan ia tinggal di komplek itu.Alvin mempercepat langkahnya agar bisa menyusul gadis itu. Dalam sekejap, Alvin bisa berada di sebelah gadis itu."Hai..." sapa Alvin seraya tersenyum ramah."Hai juga" ia balas tersenyum dan tak kalah ramah."Dari mana?" tanya Alvin."Nih, abis beli biskuit sama sabun di supermarket" jawabnya dengan menunjukan tas plastik yg dibawanya."Emang enak ya, biskuit dikasih sabun?" canda Alvin, sambil tertawa kecil. "Kenalin aku Alvin" ucap Alvin sambil mengulurkan tangan.Gadis itupun menjabat tangan Alvin "Aku Sivia, tapi kamu bisa manggil aku Via""Ooh" Alvin pun mengOkan mulutnya "Oh, iya. rumah kamu yang no 97 kan?" tanya Alvin meyakinkan."Udah tau nanya" Sivia pun pergi tanpa pemirsi.
"Vin, bawa pakaian ini ke rumah Bu Ucie, ya. Nomer rumahnya 97, dan ini struk pembayarannya" perintah mama Alvin padanya sambil menyodorkan kantong plastik ke arah Alvin.Selama ini mama Alvin memang berbisnis laundry untuk menunjang ekonomi keluarga. Kalau saja papa Alvin masih hidup, pasti mama Alvin tidak perlu bekerja seperti ini."Ya udah deh, ma. Alvin jalan dulu""hati-hati dijalan ya.""95, 96,.... Nah ni dia rumahnya. Loh bukannya ini rumah Via?" dengan cepat Alvin mengambil salah satu batu dipinggir selokan dan langsung mengetok pagar rumah itu."Heh , mau apa kamu kesini? Mau cari siapa?" kata satpam galak. "Kalau tidak penting. Lebih baik kamu pulang sana. Mengganggu orang saja""Biasa aja dong pak. Saya kesini mau nganterin baju laundry bu Ucie, yang menggunakan jasa mama saya""Ya sudah, sana masuk"Mata Alvin melirik kesana kemari, mengamati setiap sudut rumah yg dihiasi bunga bougenvil itu. "Selamat sore tante. Saya mau nganterin baju yang dilaundry di rumah saya""Ayo silakan masuk. Jadi kamu anaknya bu Winda ya?""Iya tante""Wah,hebat juga ya,mamamu yang pintar berbisnis , anaknya yang rajin" puji bu Ucie.Sebagai anak, Alvin bangga jika sang mama dipuji orang."Ahaha makasih tante" jawab Alvin sambil tersipu "Tante, Via-nya ada?""Kamu kenal sama anak tante ya? Itu Via ada ditaman belakang kalau mau kesana,silakan saja"
"Hay lagi santai ya?" sapa AlvinSedikit terkejut, Sivia menoleh kepada Alvin. "Kok kamu bisa masuk sampai kesini?"."Aku baru aja nganterin baju yang dilaundry di tempat mama ku. Dan aku tau kamu disini dari mamamu. Hmm... Baru sekarang aku liat ada cewek yang suka pelihara anjing. Setauku , kamu ngga pernah bergaul dengan teman kompleks kan? Apa karna kamu lebih suka pelihara anjing?" Tanya Alvin hati-hati agar gadis itu tidak tersinggung dengan pertanyaanya tersebut."Sebenarnya aku gak begitu suka anjing, tapi daripada bergaul dengan teman, aku lebih suka merawat anjing-anjing ini" jawab Sivia sambil mengusap kepala anjing yang berada di pangkuannya itu."Kenapa kamu menganggap anjing Herder ini lebih penting dari pada pergaulan?""Untuk apa pergaulan?" pertanyaan Sivia membuat Alvin bingung"Vi, aku ngga ngerti deh, kenapa kamu nanya gitu?""Dulu aku juga sama kaya kamu, nganggep penting pergaulan dan teman-teman""Trus apa yang ngebuat kamu kaya gini?""Beberapa tahun lalu, aku hidup mewah di bandung. Ayah ku seorang pengusaha sukses. Segalanya ku miliki, mulai dari tabungan, kredit card unlimited, hingga mobil Marcedes Benz. Mobil itu diberikan ayah pada saat aku menang lomba sains antar Provinsi. Saat itu teman-temanku banyak. Namun, ayah ku kemudian menjadi korban jatuhnya pesawat hingga meninggal dunia. Karena mama ga bisa meneruskan usaha ayah, akhirnya usaha itu bangkrut. Kemewahan dalam keluarga ku sirna. Sedikit demi sedikit benda berharga dirumahku, kami jual buat kebutuhan sehari-hari, termasuk mobil ku. Seiring hilangnya harta keluarga ku. Satu persatu sahabat setiaku meninggalkan ku. Saat itulah aku sadar ternyata semua kebaikan mereka itu palsu. Mulai saat itu aku membenci yang namanya pergaulan. Sebab semuanya palsu PALSU!!" di akhir cerita, suara Sivia terdengar bergetar.
Beberapa hari kemudian..
Jakarta yang saat itu masih dihebohkan dengan sebuah Mahakarya dari salah satu stasiun televisi terbesar di Indonesia, di kejutkan oleh kecelakaan Sivia. Sivia jatuh dari lantai dua rumahnya. Kini ia dirawat dirumah sakit dalam keadaan kritis, kaki kanannya patah dan kepalanya luka akibat terbentur tangga.Mendengar berita itu, Alvin langsung menuju rumah sakit tempat Sivia dirawat. Sesampainya di ruangan tempat Sivia dirawat, Alvin melihat Bu Ucie sedang menangis, melihat keadaan anak perempuannya itu sekarang, sementara itu, di ranjang. Sivia masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Menurut dokter, tulang betis kaki kanan Sivia patah. Setelah tangisan Bu Ucie reda, ia bercerita pada Alvin tentang Sivia yang belakangan ini sering melamun seperti masa setahun yang lalu. Sivia merasa kesepian karena tidak memiliki teman yang dapat diajak berbagi. Tapi untuk mencari teman, Sivia trauma karena pernah dikecewakan."Tante berharap kamu dapat mengembalikan sikap Via seperti semasa Ayah-nya masih hidup." Ucap Bu Ucie pada Alvin.Alvin pun mengangguk, seiring dengan janjinya yang terukir di hati untuk mengembalikan Sivia pada masa keceriaannya dulu.
Beberapa minggu kemudian Sivia telah keluar dari rumah sakit tempatnya dirawat."Pelan-pelan, kamu pasti bisa kok." Ucap Alvin sembari berjalan disamping Sivia, manjaga kemungkinan Sivia terjatuh. Sivia dengan susah payah berjalan tanpa kruk yang menopangnya. Sudah hampir seminggu ini, setiap sore Alvin membantu Sivia belajar berjalan tanpa kruk. Kalau hari libur sekolah, Alvin menemani Sivia berjalan di pagi dan sore hari. "Aku gak kuat lagi Vin. Tulang kaki ku ngilu." Kening Sivia berkerut, tangannya memegangi paha kanannya. Alvin segera memberikan kruk pada Sivia."Mungik gak Vin, aku bisa berjalan normal lagi." Tanya Sivia sambil memandang betisnya yang masih terlilit perban."Kalau kamu mau berusaha, pasti bisa." Jawab Alvin seperti seorang Dokter ahli. Setidaknya, perkataan Alvin dapat membuat Sivia terhibur."Vin, kamu kenapa sih baik banget sama aku?""Emang aku gak boleh baik sama kamu?""Bukan gitu Vin. Kenapa cuma kamu yang baik sama aku, di saat teman-temanku ngejauhin aku?""Karena aku gak mau kesalahan yang sama terulang lagi sama kamu." Ucap Alvin dengan sangat yakin.Sivia menatap Alvin dengan penuh arti, sambil tersenyum. "Arti kehadiranmu dalam hidupku tak akan lekang oleh waktu dan akan kusimpan selamanya dalam hatiku"
"Vin, bawa pakaian ini ke rumah Bu Ucie, ya. Nomer rumahnya 97, dan ini struk pembayarannya" perintah mama Alvin padanya sambil menyodorkan kantong plastik ke arah Alvin.Selama ini mama Alvin memang berbisnis laundry untuk menunjang ekonomi keluarga. Kalau saja papa Alvin masih hidup, pasti mama Alvin tidak perlu bekerja seperti ini."Ya udah deh, ma. Alvin jalan dulu""hati-hati dijalan ya.""95, 96,.... Nah ni dia rumahnya. Loh bukannya ini rumah Via?" dengan cepat Alvin mengambil salah satu batu dipinggir selokan dan langsung mengetok pagar rumah itu."Heh , mau apa kamu kesini? Mau cari siapa?" kata satpam galak. "Kalau tidak penting. Lebih baik kamu pulang sana. Mengganggu orang saja""Biasa aja dong pak. Saya kesini mau nganterin baju laundry bu Ucie, yang menggunakan jasa mama saya""Ya sudah, sana masuk"Mata Alvin melirik kesana kemari, mengamati setiap sudut rumah yg dihiasi bunga bougenvil itu. "Selamat sore tante. Saya mau nganterin baju yang dilaundry di rumah saya""Ayo silakan masuk. Jadi kamu anaknya bu Winda ya?""Iya tante""Wah,hebat juga ya,mamamu yang pintar berbisnis , anaknya yang rajin" puji bu Ucie.Sebagai anak, Alvin bangga jika sang mama dipuji orang."Ahaha makasih tante" jawab Alvin sambil tersipu "Tante, Via-nya ada?""Kamu kenal sama anak tante ya? Itu Via ada ditaman belakang kalau mau kesana,silakan saja"
"Hay lagi santai ya?" sapa AlvinSedikit terkejut, Sivia menoleh kepada Alvin. "Kok kamu bisa masuk sampai kesini?"."Aku baru aja nganterin baju yang dilaundry di tempat mama ku. Dan aku tau kamu disini dari mamamu. Hmm... Baru sekarang aku liat ada cewek yang suka pelihara anjing. Setauku , kamu ngga pernah bergaul dengan teman kompleks kan? Apa karna kamu lebih suka pelihara anjing?" Tanya Alvin hati-hati agar gadis itu tidak tersinggung dengan pertanyaanya tersebut."Sebenarnya aku gak begitu suka anjing, tapi daripada bergaul dengan teman, aku lebih suka merawat anjing-anjing ini" jawab Sivia sambil mengusap kepala anjing yang berada di pangkuannya itu."Kenapa kamu menganggap anjing Herder ini lebih penting dari pada pergaulan?""Untuk apa pergaulan?" pertanyaan Sivia membuat Alvin bingung"Vi, aku ngga ngerti deh, kenapa kamu nanya gitu?""Dulu aku juga sama kaya kamu, nganggep penting pergaulan dan teman-teman""Trus apa yang ngebuat kamu kaya gini?""Beberapa tahun lalu, aku hidup mewah di bandung. Ayah ku seorang pengusaha sukses. Segalanya ku miliki, mulai dari tabungan, kredit card unlimited, hingga mobil Marcedes Benz. Mobil itu diberikan ayah pada saat aku menang lomba sains antar Provinsi. Saat itu teman-temanku banyak. Namun, ayah ku kemudian menjadi korban jatuhnya pesawat hingga meninggal dunia. Karena mama ga bisa meneruskan usaha ayah, akhirnya usaha itu bangkrut. Kemewahan dalam keluarga ku sirna. Sedikit demi sedikit benda berharga dirumahku, kami jual buat kebutuhan sehari-hari, termasuk mobil ku. Seiring hilangnya harta keluarga ku. Satu persatu sahabat setiaku meninggalkan ku. Saat itulah aku sadar ternyata semua kebaikan mereka itu palsu. Mulai saat itu aku membenci yang namanya pergaulan. Sebab semuanya palsu PALSU!!" di akhir cerita, suara Sivia terdengar bergetar.
Beberapa hari kemudian..
Jakarta yang saat itu masih dihebohkan dengan sebuah Mahakarya dari salah satu stasiun televisi terbesar di Indonesia, di kejutkan oleh kecelakaan Sivia. Sivia jatuh dari lantai dua rumahnya. Kini ia dirawat dirumah sakit dalam keadaan kritis, kaki kanannya patah dan kepalanya luka akibat terbentur tangga.Mendengar berita itu, Alvin langsung menuju rumah sakit tempat Sivia dirawat. Sesampainya di ruangan tempat Sivia dirawat, Alvin melihat Bu Ucie sedang menangis, melihat keadaan anak perempuannya itu sekarang, sementara itu, di ranjang. Sivia masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Menurut dokter, tulang betis kaki kanan Sivia patah. Setelah tangisan Bu Ucie reda, ia bercerita pada Alvin tentang Sivia yang belakangan ini sering melamun seperti masa setahun yang lalu. Sivia merasa kesepian karena tidak memiliki teman yang dapat diajak berbagi. Tapi untuk mencari teman, Sivia trauma karena pernah dikecewakan."Tante berharap kamu dapat mengembalikan sikap Via seperti semasa Ayah-nya masih hidup." Ucap Bu Ucie pada Alvin.Alvin pun mengangguk, seiring dengan janjinya yang terukir di hati untuk mengembalikan Sivia pada masa keceriaannya dulu.
Beberapa minggu kemudian Sivia telah keluar dari rumah sakit tempatnya dirawat."Pelan-pelan, kamu pasti bisa kok." Ucap Alvin sembari berjalan disamping Sivia, manjaga kemungkinan Sivia terjatuh. Sivia dengan susah payah berjalan tanpa kruk yang menopangnya. Sudah hampir seminggu ini, setiap sore Alvin membantu Sivia belajar berjalan tanpa kruk. Kalau hari libur sekolah, Alvin menemani Sivia berjalan di pagi dan sore hari. "Aku gak kuat lagi Vin. Tulang kaki ku ngilu." Kening Sivia berkerut, tangannya memegangi paha kanannya. Alvin segera memberikan kruk pada Sivia."Mungik gak Vin, aku bisa berjalan normal lagi." Tanya Sivia sambil memandang betisnya yang masih terlilit perban."Kalau kamu mau berusaha, pasti bisa." Jawab Alvin seperti seorang Dokter ahli. Setidaknya, perkataan Alvin dapat membuat Sivia terhibur."Vin, kamu kenapa sih baik banget sama aku?""Emang aku gak boleh baik sama kamu?""Bukan gitu Vin. Kenapa cuma kamu yang baik sama aku, di saat teman-temanku ngejauhin aku?""Karena aku gak mau kesalahan yang sama terulang lagi sama kamu." Ucap Alvin dengan sangat yakin.Sivia menatap Alvin dengan penuh arti, sambil tersenyum. "Arti kehadiranmu dalam hidupku tak akan lekang oleh waktu dan akan kusimpan selamanya dalam hatiku"
SIVIA AZIZAH
ALVIA
ALVIN JONATHAN

.jpg)






