Tuesday, 29 August 2017

Samarinda, 17 Agustus 2017

Kepada Yth.
Negaraku Indonesia

Hai, Indonesia ku

Perkenalkan, aku seorang mahasiswa yang belum dapat memberikan apa pun di hari jadi mu yang ke 72 ini. Namun aku ingin turut serta memberikakan hadiah kecil untukmu berupa surat kecil ini.
Sejujurnya, aku sangat bahagia, hidup di tanah ibu pertiwi ini, namun akhir-akhir ini aku cukup terganggu dengan beberapa oknum yang juga hidup dan berbagi tanah ibu pertiwi dengan ku.
Jujur saja, aku sangat bangga dengan segala adat, budaya, kuliner, lingkungan serta ‘kebiasaan aneh’ yang ada di negeri ini. Apalagi, di era milenial seperti sekarang ini, sudah terdengar gaung mu Indonesia, di negeri seberang. Sudah banyak putera puterimu yang mengharumkan namamu di kancah international. Sudah banyak tetanggamu yang iri dengan mu sehingga membuat mereka mencuri yang engkau miliki.

Namun aku cukup perihatin dengan apa yang terjadi pada mu akhir akhir ini.
Memang semboyan yang engkau miliki adalah ‘bhineka tunggal ika’ namun engkau pasti sedih dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini, banyak perpecahan yang terjadi, banyak oknum yang tidak dapat menghargai perbedaan, banyak orang yang saling berdebat bahwa apa yang mereka ‘miliki’ adalah yang paling benar. Kebebasan berpendapat-pun sekarang sudah sangat jarang ditemukan, karena banyaknya orang yang sensitif akan perbedaan dan berujung dengan permusuhan. Padahal sudah jelas isi dari semboyan yang miliki adalah tidak adanya perbedaan, kita semua sama, kita semua sederajat, kita semua saudara, kita semua satu. Apakah putera-puterimu sudah tidak dapat lagi saling menerima dan menghargai perbedaan yang ada, Indonesia? Apakah putera puterimu harus terus saling berdebat dan menjatuhkan satu sama lain akan perbedaan mereka? Tolong Indonesia, ingatkan lagi, mereka akan nilai moral yang terkandung dalam semboyan ‘Bhineka Tunggal Ika’ mu.

Tidak hanya perbedaan yang memecah belah putera puterimu, namun kualitas moral anak bangsa-pun menurun, banyak generasi muda yang sudah tidak memegang teguh norma-norma yang ada dengan beralasan “mengikuti norma yang ada, adalah hal yang kuno”. Memang, di era seperti sekarang ini, dimana teknologi  menjadi ‘tuhan’ bagi banyak orang, hal tersebut dianggap biasa, dan jujur aku pun menjadi salah satu puteri-mu yang mulai kehilangan norma yang ada. Banyak sekali tayangan-tayangan yang membawa anak-anak melewati batas imajinasi yang akan merusak selubung otak kiri mereka, tidak hanya melalui layer televisi, namun banyak sekali hal-hal yang seharusnya tidak dilihat ataupun didengar oleh anak-anak seusia mereka, dapat diakses dengan sangat mudah dan cepat, bahkan hanya dengan hitungan detik. Tidak ada lagi tanah lapang yang berisi sekelompok anak kecil bermain layang-layang, galasin, ataupun petak umpet sehabis pulang sekolah hingga petang tiba. Semua itu tergantikan dengan hadirnya benda pipih yang dapat mereka bawa kemana-mana dan dapat membawa mereka kemanapun mereka ingin.

Korupsi pun menjadi hal yang biasa sekarang ini Indonesia-ku, setiap pagi selalu saja ada kasus korupsi yang terpampang di koran-koran. Pejabat, gubernur, wakil rakyat, bahkan yang terbaru adalah pengusaha yang menipu ribuan pelanggannya, mereka semua seolah berlomba-lomba untuk mengambil yang bukan hak mereka. Walau sudah banyak yang tertangkap basah, tetap saja selalu muncul kasus-kasus korupsi yang baru. Merekalah orang-orang yang menggunakan namamu demi kepentingan mereka sendiri. Orang-orang tak bertanggung jawab yang mengambil keuntungan darimu, mereka mengambil kekayaanmu dan merampas hak orang lain. Merekalah, oknum-oknum yang merusak nama baikmu dimata dunia, orang orang yang seolah lupa dimana mereka berpijak. Mengapa kasus-kasus tersebut seolah tidak ada habisnya? Biar ku beri tahu dengan jujur, Indonesia. Sekarang ini keadilan sulit ditegakkan, kebenaran ditutup-tutupi, kejujuran menjadi hal yang tabu. Memang engkau adalah negara hukum, tapi maaf Indonesia, lagi lagi aku harus memberi tau mu kenyataan pahit, bahwa yang terjadi sekarang ini adalah hukum yang mengatasnamakan dirimu, telah dimanipulasi pula oleh orang-orang yang hati nuraninya sudah tiada itu. Bahkan, saat ada putera-puterimu yang ingin menegakkan keadilan, justru mereka yang mendapatkan ketidak adilan, entah itu melalui sekedar melalui bullying di media sosial, prilaku kriminal, diskriminatif, fitnah yang berujung jeruji besi, hingga pembunuhan.

Saat era milineal seperti sekarang ini sangat memudahkan setiap orang dalam berpendapat dan berkarya, ada sebagian putera-puterimu yang justru harus merasakan ketidakadilan. Mereka hanya ingin menyampaikan kejujuran yang tidak didengar oleh pihak yang bersangkutan. Mereka hanya ingin berkarya. Mereka hanya ingin bebas berekspresi, namun  beberapa dari mereka harus berujung pada meja hijau, dengan dalih 'pencemaran nama baik' seperti yang dirasakan oleh salah satu komika, yang hanya ingin meminta hak-nya. Tidak hanya itu, yang paling menyakitkan dari seorang seniman justru adalah saat karya mereka tidak dihargai, dan bahkan dibajak. Benar Indonesia-ku, pembajakan saat ini bukanlah suatu hal yang tabu lagi.

Apakah hal-hal tersebut yang dinamakan merdeka? Memang, engkau sudah bebas dan tidak perlu takut lagi kepada negeri asing Indonesia, namun yang sungguh memprihatinkan justru engkau dijajah oleh orang-orang yang seakan lupa dimana mereka dilahirkan, dimana mereka berpijak, dari mana beras dan air yang mereka nikmati, kalau bukan dari tanah ini, tanah Ibu Pertiwi.
Mari kita saling berkaca dan tanyakan pada hati nurani masing-masing, apakah kita sudah memeberikan yang terbaik untuk negeri ini, ataukah justru kita malah merusak ibu pertiwi dengan ataupun tanpa kita sadari, tanpa kita harus saling menjatuhkan satu sama lain. 

Namun aku yakin, engkau sungguh tak selemah itu, Indonesia. Aku beserta putera puteri Ibu Pertiwi lainnya, tidak akan membiarkanmu terluka terlalu lama. Kami akan menerbangkan kembali burung garuda, kembali mengibarkan sang saka merah putih, kembali membuat ibu pertiwi berseri. Percayalah! Dirgahayu Indonesiaku!


Dengan sepenuh hati,


                                                                                                                            Dessydevin.

Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates & MyBloggerThemes